picture

picture

Minggu, 23 Mei 2010

Sapaan Lembut Dari-Nya



“Pagi Sakura!”

“KYAAA!”

GUBRAKK!! JDUKK!!

“Aww!” pekik Sakura seraya mengelus-elus belakang kepalanya yang terbentur tepi ranjang. Tangan kirinya meraih tiang dipan untuk berpegangan, dan bangkit. Ia mengambil handphone yang bergetar seru di ranjang, kemudian mematikan alarmnya. Sambil meringis, ia keluar kamar. Ringisannya seketika berubah menjadi teriakan nyaring saat ia melihat jarum jam di dinding ruang makan sudah menunjukkan pukul setengah tujuh tepat.

Barisan teman-temannya yang berkostum olahraga menyambut Sakura di pinggir lapangan upacara. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya. Pukul setengah delapan. Sambil meringis untuk kedua kalinya, ia melesat ke ruang ganti sambil berusaha menghindari tatapan guru olahraganya.

Akhirnya pelajaran hari itu berakhir. Dering bel disambut desahan lega seluruh murid, walaupun bunyinya sangat memekakkan telinga. Sakura mengemasi buku-bukunya ke dalam tas, dan bergegas keluar. Di saat itulah Naruto, teman sekelasnya memanggilnya.

“Ada apa?” tanya Sakura tak sabar. Naruto mengangsurkan beberapa helai dokumen ke tangan Sakura.

“Kuharap bermanfaat. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.” Sakura mengamati sekilas lembaran kertas itu, kemudian tersenyum simpul. Ia pun segera melangkahkan kakinya keluar kelas.



“Pagi Sakura.”

“Pagi.” Sakura mematikan alarm suara dari handphone-nya. Kali ini ia sudah memastikannya berbunyi lebih pagi.

Pukul setengah tujuh, ia sampai di ruang kelasnya. Di depan pintu ia disambut oleh Ino yang tersenyum ramah.

“Madingmu bagus lho. Aku suka gambarnya,” ujar Ino setelah Sakura meletakkan ranselnya dan duduk. Sakura tersenyum.

“Hari ini aku sudah membawa artikel yang baru, nanti tinggal ditempel. Kamu temani aku, ya?”

Ino mengangguk semangat.

“Eh, ngomong-ngomong aku boleh melihat artikelnya tidak?” Sakura mengangguk, lalu mengulurkan beberapa lembar kertas yang dimaksud.

Beberapa saat kemudian, Ino berkata,

“Isinya bagus. Aku suka ini.” Sakura melihat judul artikel yang dipegang Ino.

‘Dingin, menghangatkan. Tahajjudlah hai kawan..’

“Aku juga suka,” balas Sakura.

“Kamu suka?” Ino menatapnya penuh arti. Sakura bingung.

“Suka. Artikelnya. Apanya sih?”

“Tahajjud. Kamu suka melakukannya?”

“Oh itu, belum.” Sakura tertunduk malu. Ino tersenyum.

“Nanti malam kita tahajjud yuuk, aku akan kirim SMS supaya kamu bisa bangun pagi.”

“Eh, aku sedang tidak sholat. Kapan-kapan saja ya.” Ino mendesah kecewa, tapi kemudian mengangguk pelan. Dalam hati, rasa tidak senang Sakura muncul. Ia tak suka hal pribadinya diungkit-ungkit.

Seminggu berlalu. Kertas-kertas bertebaran di meja belajar Sakura. Semua kewajibannya untuk mengganti mading akan terselesaikan besok pagi. Ia memberesi sisa-sisa guntingan, lalu beranjak ke tempat sampah. Saat itu matanya menangkap sebuah artikel yang terselip di antara tumpukan kertas mading edisi lalu. Judul yang itu. Sakura merasa ada sesuatu yang belum dikerjakannya, tapi ia ingin mengabaikannya. Toh itu sunnah. Ia pun memasukkan edisi yang baru ke dalam boks plastik, siap untuk dibawa besok pagi, dan meletakkan edisi yang lama di dalam almari, terkubur bersama puluhan arsip-arsip lain yang terlupakan.

“Sakura.” Sakura menoleh ke belakang. Ia sedang sibuk menyusun artikel di mading ketika dilihatnya Hinata, teman kelasnya mendekat. Gadis itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Assalamu’alaikum, Sakura. Mau nanya boleh tidak?” tanyanya polos.

“Wa’alaikumsalam. Ya bolehlah. Ada apa?”

“Begini Sakura, boleh tidak sih kalau kita sholat tahajjud karena ingin keinginan kita terkabul? Dan, Hinata dengar kalau tahajjud itu bisa membuat wajah kita bercahaya ya, Sakura, lalu orang tertentu bisa membedakan wajah orang yang selalu tahajjud dengan yang tidak pernah.”

Sakura terdiam.

“Dan satu lagi. Boleh tidak Hinata sholat tahajjud karena takut kalau ibadah Hinata belum sempurna? Hinata takut kalau itu membuat Hinata tahajjud bukan karena Allah.”

Dan Sakura pun merasa seperti dihempas ke jurang ketika mendengarkan pertanyaan lugu gadis kecil itu.

“Sakura, Sakura, kenapa?”

Sakura tertunduk. Satu per satu air matanya menetes. Kemudian tanpa bisa ditahan, air matanya semakin membanjir deras. Sakura berlari ke kamar mandi mushola saat itu juga, meninggalkan Anti yang berdiri terpaku di depan kotak mading. Ia menumpahkan segala sesalnya di sana.



Assalamu’alaikum..

Dear Himata, temanku sayang..

Maafin aku yang tadi menangis dan meninggalkanmu tanpa sebab. Sebenarnya aku tadi hanya merasa khilaf.

Sekarang, aku ingin berterima kasih. Kalau bukan karena pertanyaan Hinata tadi, mungkin sampai sekarang aku belum sadar bahwa selama ini apa yang aku lakukan adalah salah. Selama ini aku terlalu meremehkan ibadah sunnah, terutama sholat malam. aku begitu menyesal telah merasa sempurna, padahal aku tahu masih banyak kekurangan dalam beribadah.

Untuk pertanyaan Hinata tadi, jawabannya adalah tidak apa-apa. Malah, aku bangga kalau Ainata rela melakukan sholat tahajjud Itu artinya Hinata telah berusaha semaksimal mungkin, dan aku harap, setelah keinginan Hinata tercapai, ibadah tersebut tetap berlangsung. Doakan aku ya Hinata, mulai malam ini Insya Allah aku ingin meluruskan pemahaman aku. Aku ingin lebih giat berikhtiar. aku doakan, semoga cita-cita Hinata terkabul. Amin.

Wassalamu’alaikum warahmatullah.

Peace and love from Sakura

Sakura menekan tombol enter, dan surat elektronik itu pun terkirim. Ia bangkit dari kursinya, dan meraih ponsel yang tergeletak di ranjang. Ia memperbarui alarmnya sehingga akan berbunyi jam tiga pagi. Malam itu, waktu masih menunjukkan pukul delapan. Bukan jam yang biasa baginya untuk beristirahat, namun detik itu ia telah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa nanti malam. Ia pun meletakkan ponselnya, dan beranjak ke kamar mandi. Setelah berwudhu dan sholat Isya’, ia merebahkan tubuhnya ke kasur, menarik selimutnya hingga ke dada, dan memejamkan mata. Dalam hati, ia berdoa kepada Tuhannya agar dibangunkan oleh malaikat esok dini hari. Dan ia pun menekan saklar lampunya padam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar