
Tentang MAHKOTA DEWA
Mahkota dewa adalah salah satu tanaman asli Indonesia yang akhir-akhir ini popular sebagai tanaman yang secara empiris dapat mengobati berbagai macam penyakit.
Beberapa manfaat mahkota dewa berdasarkan berbagai jurnal ilmiah adalah:
· Pengujian aktiftas antikanker ekstrak dari tanaman mahkota dewa dilakukan dengan menguji daya hambat pertumbuhan sel Leukimia L210 oleh ekstrak tanaman secara in vitro.Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman memiliki nilai hambat pertumbuhan 50% dari sel Leukimia setelah masa inkubasi 48 jam. Batas minimal satu ekstrak tanaman untuk dapat dinyatakan berpotensi sebagai suatu antikanker adalah 10 ug/ml (Lisdawati, 2002).
· Pengujian aktifitas antioksidan ekstrak tanaman Mahkota Dewa menunjukkan daging buah dan kulit biji tanaman memiliki aktifitas antioksidan yang cukup potensial.(Yen, 1995).
· Hasil uji efek antihistamin/anti-alergi, ternyata bahwa asing-masing kadar ekstrak daun/buah mahkota dewa mempunyai efek antihistamin. (Sumastuti, 2001).
· Efek sitosik daun dan buah mahkota dewa terhadap sel Hela (sel kanker rahim) secara In Vitro.Efek hipoglikemik (penurun gula darah) daun buah mahkota dewa.Efek hepatoprotektor (hati). Efek anti radang(anti inflamasi) dari daun dan buah mahkota dewa.Efek anti bakteri pada Staohylococcus sp dan Streptococcus sp.
· Selain itu, penelitian yang sedang berjalan tentang efek mahkota dewa terhadap kesehatan; efek anti piretik (menurunkan panas), efek analgesic (mengurangi rasa sakit), efek menurunkan kadar asam urat dalam darah, kardiovaskuler (efek pada jantung, hipertensia, diuretic), bahan antiobesitas, anti hypercholesterolemia, efek anti kejang, efek penenang, antioksidan.
(Phaleria Macrocarpa)
Mengenal Mahkota Dewa
Termasuk famili Thymelaece. Batang utama bercabang-cabang setinggi 1,5-2,5m, daunnya tunggal berbentuk lonjong, berujung lancip. Buahnya bulat, warnanya merah tua jika matang. Tanaman dari Irian ini tumbuh subur pada ketinggian 10-1.200m dpl.
Khasiat dan Kandungan
Ekstrak daging buahnya berkhasiat sebagai antihistamin, antialergi, bersifat sitotoksik terhadap sel kanker rahim, bersifat hapatoprotektif. Juga menurunkan kadar gula darah, antioksidan, menurunkan kadar asam urat.
Alkaloid, senyawa organic berfungsi sebagai detoksifikasi, menetralisir racun-racun di dalam tubuh.
Saponin merupakan fitonutrien, sering disebut “deterjen alam”. Senyawa ini bersifat antibakteri dan antivirus. Juga meningkatkan system kekebalan tubuh, meningkatkan daya tahan, mengurangi kadar gula darah, mengurangi penggumpalan darah.
Flavonoid berindikasi antiperadangan dan mencegah pertumbuhan kanker. Polifenol berfungsi sebagai antihistamin. Zat lain adalah tannin, sterol, terpen.
Hasil Penelitian
Dra. Lucie Widowati dari Puslitbang Farmasi dan Obat Tradisional-Depertemen Kesehatan. “Saya meneliti mahkota dewa dari tahun 2003,”ujar Lucie. Hasilnya menunjukkan, biji mahkora dewa sangat toksik. Sementara buahnya tidak. Lucie juga menyimpulkan zat dalam buah mehkota dewa meliputi alkaloid, tanin, saponin,, flavonoid, polifenol.
Dalam abstraksi laporannya, Lucie menyebutkan buah mahkota dewa bersifat sitotoksik terhadap sel kanker rahim (sel HeLa) dan sel leukemia. Menurunkan kadar gula darah, menurunkan asam urat. Bersifat antioksidan sebagai scavenger radikal bebas. Juga menurunkan kadar asam urat.
Laporan itu juga mengungkapkan hasil penelitian Vivi Lisdayati dari Departemen Farmasi, Fakultas MIPA UI. “Riset Vivi menyebutkan kalau mahkota dewa dapat menghambat pertumbuhan kanker darah putih sebesar 50% pada larva udang.”
Sedangkan Sumastuti dari Fakultas Kedokteran UGM yang melakukan uji bioassay terhadap sel kanker rahim menarik kesimpulan awal. Ekstrak air buah mahkota dewa dapat menghambat pertumbuhan sel HeLa (sel kanker rahim) dengan Inhibitory Concentration (IC50) sebesar 196,74 mg/ml pada sel kanker orang.
Uji khasiat mahkota dewa sebagai penurun kadar gula darah, juga dilakukan Lucie. Ia menggunakan ekstrak etanol 70% buah mahkota dewa. Hasilnya, pada dosis 110mg/200g bb, kadar gula darah pada tikus bakal menurun.
Untuk melihat pengaruh mahkota dewa terhadap kadar asam urat, Lucie mencatat hasil penelitian Endah Hasturani dari Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma pada 2003. penelitian pada ayam jantan jenis lohman brown umur 2-4 bulan. Hasilnya, perasan daging mahkota dewa punya efek antihiperuresemia, dengan dosis tengah 13,16g/kg bb. Jadi dengan dosis diatas kadar asam urat sudah bisa turun.
Untuk menganalisa khasiat mahkota dewa mengatasi eksem, gatal-gatal, penyakit kulit karena alergi, Sumastuti melakukan uji efek antihistamin dengan ekstrak air daun dan buah mahkota dewa. Hewan percobaan dipilih marmot. Hasilnya pemberian 0,5 ml ekstrak dengan konsentrasi 6,25; 12,5; 25; 50; dan 100% dapat mengurangi kontraksi ileum marmot akibat histamine.
Mahkota Dewa Musuh Baru Aneka Penyakit
Jakarta, Minggu Dunia tanaman obat kini kedatangan “pendatang baru” yang lumayan hebat. Mahkota dewa namanya. Ia bisa membuat penderita penyakit ringan macam gatal-gatal, pegal-pegal, atau flu, hingga penyakit berat seperti kanker dan diabetes, merasakan kesembuhan. Mengetahui khasiat tumbuhan satu ini, mungkin Anda segera berminat menanamnya. Betapa tidak. Tanaman ini ternyata punya khasiat luar biasa. Ia bisa menyembuhkan gangguan kesehatan dari yang ecek-ecek hingga yang nyaris tak ada harapan sembuh. Kalau cuma pegal-pegal, sehari dua hari bakal hilang. Flu? Wah, itu tugas yang juga bisa dibereskan dalam sehari dua hari. Diabetes pun bakal takluk dalam beberapa bulan. Pakai kalung ini, Anda bagaikan memiliki energi CHI yang tinggi tanpa perlu berlatih tenaga dalam. Dapat meningkatkan kesehatan dan membantu proses penyembuhan berbagai penyakit. Asam urat, kolesterol, nyeri punggung, sakit pinggang, otot leher kaku, migren, alergi, sampai penyakit kronis seperti diabetes, jantung, dll. Bagaimana dengan kanker? Meski butuh waktu bulanan, tanaman ini pun sanggup melawannya sampai titik darah penghabisan. Paling tidak itu berdasarkan pengalaman empiris banyak orang, termasuk yang merasa sembuh dari penyakit pada organ hati atau jantung, hipertensi, rematik, serta asam urat. Untuk mengolahnya jadi obat pun sangat gampang. Cuma dengan menyeduh “teh racik” terbuat dari kulit dan daging buah, cangkang buah, atau daunnya, bahan obat alami ini pun siap dipakai. Kalau enggak menghendaki rasa pahitnya, kita bisa sedikit bersusah payah mengolahnya menjadi ramuan instan. Rasanya ditanggung lebih sedap tanpa mengurangi khasiat. Itulah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Tanaman yang kabarnya berasal dari daratan Papua ini di Jawa Tengah dan Yogyakarta dijuluki makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya raja obat, karena khasiatnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara, orang-orang dari etnik Cina menamainya pau yang artinya obat pusaka. More info about Cancer | More info about Diabetes Dari alergi hingga kanker Sebagian orang mungkin pernah sekadar melihatnya, sebagian lagi mendengar namanya pun tidak pernah. Wajar bila selama ini sangat sedikit orang tahu mahkota dewa. Apalagi khasiatnya. Bahkan, di banyak lembaga penelitian yang menangani tumbuhan berkhasiat obat belum ditemukan hasil penelitiannya. Sampai saat ini, setidaknya baru dr. Regina Sumastuti dari Jurusan Farmakologi, Universitas Gadjah Mada yang telah menelitinya. Itu pun masih terbatas pada pengujian terhadap efek antihistamin atau antialergi. Padahal, kalangan keraton Solo dan Yogyakarta telah lama mengenalnya dan memanfaatkannya sebagai tanaman obat. Beruntung, lama-lama manfaat luar biasa ini bocor ke kalangan awam. Sekarang, tanaman ini seakan turun dari langit sebagai “dewa penyelamat” orang sakit. Berbagai kesaksian dikemukakan mereka yang telah merasakan khasiatnya. Dalam buku Mahkota Dewa Obat Pusaka Para Dewa karya Ning Harmanto, ketua Kerukunan Wanita Tani Bunga Lily, yang menekuni pengobatan dengan mahkota dewa, ada 26 orang yang mengakui keampuhannya atau ditulis berhasil sembuh dari sakitnya berkat mahkota dewa. Di antara mereka adalah Tuti Ariestyani Winata, yang setelah menjalani operasi pengangkatan kista di rahim, mengalami kemunduran kondisi tubuh. Badannya kurus, perutnya membuncit seperti sedang hamil tua, jari-jari kakinya menggemuk, tekanan darahnya naik-turun, dan Hb-nya sangat rendah. Beberapa dokter yang dikunjunginya memberikan diagnosis berbeda. Ada yang mendiagnosisnya menderita kanker hati, sirosis hati, dan ada pula yang menyatakan dia menderita hepatitis kronis. Tak kunjung memperoleh kepastian penyakit yang dideritanya, atas saran Ning, Tuti akhirnya mengonsumsi air rebusan daging buah mahkota dewa. Setelah enam bulan, Tuti merasa sembuh dan kondisi tubuhnya membaik kembali. Selain Tuti, Diana yang berdomisili di Bekasi menyatakan berhasil sembuh dari penyakit kanker di payudara kanannya setelah menjalani operasi dua kali lagi untuk membersihkan kanker di payudara kirinya. Anna Winata di Bogor dan Retno di Bekasi juga merasakan sehat kembali dari sakit kanker rahim berkat mahkota dewa. Ny. Parlan di Balikpapan pun berhasil menormalkan kadar gula darahnya berkat tumbuhan obat ini. Masih banyak lagi contoh keberhasilan yang lain. Sayangnya, yang tidak berhasil tidak pernah terungkap, sehingga tidak bisa diketahui penyakit apa yang tidak mampu dilawan tanaman berbuah merah menyala ini. Anda pembaca Majalah Trubus? Anda pasti tahu resep ini. Jeli Gamat atau Teripang, disebut juga Sea Cucumber atau Haisom. Ampuh untuk Hepatitis, Jantung, Kolesterol, Diabetes, Stroke, Luka Dalam, Luka Luar, Luka Bakar, Lupus, Psoriasis, Arthritis, Problem Pernafasan, Kecantikan, Asam Urat, Pengapuran, Eksim, Typhus, Asthma, dll.
KALUNG AJAIB!
Bukan sihir, bukan klenik, bukan roh halus. Alami, aman dan bergaransi. Baca testimoni para pemakai. Ini luar biasa. Baca selengkapnya...
Ampuhnya Resep dari Trubus
Produk dari Malaysia. Halal. Aman dan sangat alami. Baca testimoni dan foto hasil terapi para pemakai. Ini luar biasa. Baca selengkapnya...
Selama ini daun dan buah mahkota dewa dimanfaatkan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, sebagai obat penyakit kulit, gatal-gatal, dan eksim. Penyakit tersebut ditandai dengan gejala gatal-gatal, pertanda adanya alergi terhadap agen tertentu yang mendorong sel-sel tubuh mengeluarkan histamin.
Soal kemampuan melawan penyakit kulit ini Sumastuti sudah membuktikannya. Dari penelitian secara in vitro menggunakan usus halus marmot, diketahui, memang benar daun dan buah mahkota dewa mempunyai efek antihistamin. Artinya, tanaman tersebut secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya sebagai obat gatal-gatal akibat gigitan serangga atau ulat bulu, eksim, dan penyakit lain akibat alergi.
Penelitian lain masih kita tunggu untuk membuktikan khasiat luar biasa seperti yang dirasakan beberapa orang di atas. Namun, cerita dari mulut ke mulut rupanya sudah membuat orang, terutama yang sakit berat dan umumnya hampir putus harapan, percaya. Maka, orang pun mulai beramai-ramai mencari bagian berkhasiat mahkota dewa.
Tak sedikit yang mencoba menanamnya di pekarangan rumah. Bahkan, ada yang melihat “wabah” ini sebagai peluang usaha untuk membudidayakan dan mengolahnya menjadi produk ramuan obat tradisional atau jamu dengan berbagai bentuk.
Dijadikan “teh”
-
Menanam mahkota dewa memang bukan perkara sulit. Tumbuhan, yang bisa hidup baik pada ketinggian 10 - 1.000 m dpl., ini bisa ditanam dari biji atau hasil cangkokan.
Meski penanamannya bisa di dalam pot atau langsung di tanah, pertumbuhannya akan lebih baik bila ditanam di tanah. Tanaman dari biji biasanya sudah berbuah pada umur 10 - 12 bulan. Yang berasal dari cangkokan, mestinya berbuah lebih cepat.
Buah inilah bagian yang paling banyak digunakan sebagai obat alami, di samping daun dan batang. Dari ketiga bagiannya, yakni kulit dan daging buah, cangkang (batok biji), serta biji, yang dimanfaatkan umumnya kulit dan daging buah serta cangkangnya. Buah muda berwarna hijau dan yang tua berwarna merah cerah.
“Khasiat buah muda dan tua sama saja,” jelas Ning. Sayang, senyawa apa yang terkandung dalam bagian-bagian buah, masih belum terungkap secara detil. Cuma, Hutapea dkk. (1999), seperti dikutip Sumastuti, menyatakan, dalam daun dan kulit buah makuto dewo terkandung senyawa saponin dan flavonoid, yang masing-masing memiliki efek antialergi dan antihistamin.
Ning menulis, dalam keadaan segar, kulit dan daging buah muda mahkota dewa terasa sepet-sepet pahit. Sedangkan yang sudah tua sepet-sepet agak manis. Jika dimakan segar akan menimbulkan bengkak di mulut, sariawan, mabuk, bahkan keracunan. Apa penyebabnya, belum diketahui dengan pasti. Karenanya, tidak dianjurkan untuk mengonsumsinya dalam keadaan segar.
Cangkangnya memiliki rasa sepet-sepet pahit, lebih pahit dari kulit dan daging buah. Bagian ini juga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung karena dapat mengakibatkan mabuk, pusing, bahkan pingsan. Namun, setelah diolah, bagian ini lebih mujarab ketimbang kulit dan daging buah. Ia dapat mengobati penyakit berat macam kanker payudara, kanker rahim, sakit paru-paru, dan sirosis hati.
Ada alasan mengapa biji mahkota dewa tidak dikonsumsi. “Bijinya sangat beracun. Kalau mengunyahnya, kita bisa muntah-muntah dan lidah mati rasa,” tambah Ning. Karenanya, bagian ini cuma digunakan sebagai obat luar untuk penyakit kulit.
Sudah tentu untuk menjadikan daging buah atau cangkangnya sebagai obat, perlu pengolahan terlebih dulu. Bisa dijadikan buah kering, teh racik, atau ramuan instan. Namun, yang sering dilakukan adalah dengan menjadikannya teh racik dan ramuan instan.
Bagian lain yang bisa dijadikan obat adalah batang dan daun. Menurut Ning dalam bukunya, batang mahkota dewa secara empiris bisa mengobati kanker tulang. Sedangkan daunnya bisa menyembuhkan lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor. Cara memanfaatkan daun adalah dengan merebus dan meminum airnya.
Jangan kaget. Begitu minum ramuan mahkota dewa, kita segera merasakan serangan kantuk. Efek ini normal. Efek lainnya adalah mabuk. Untuk menghilangkan efek ini dianjurkan untuk minum air lebih banyak. Untuk konsumsi selanjutnya, takaran mahkota dewa perlu dikurangi. Jika masih tetap mabuk, sebaiknya untuk sementara hentikan dulu. Di samping efek buruk tadi ternyata masih ada efek “baik”-nya. “Psst ... kadang-kadang kaum pria ada yang libidonya meningkat,” bisik Ning.
Menurut Ning, dalam proses menyembuhkan penyakit dalam atau penyakit serius macam kanker rahim, setelah pasien mengonsumsi seduhan mahkota dewa badannya bisa merasakan panas-dingin, bahkan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah berbau busuk. “Ini merupakan proses pembersihan penyakit,” tulis Ning.
Penggunaannya bisa dalam bentuk ramuan tunggal bisa pula ramuan campuran. “Pencampuran dengan tumbuhan obat lain dimaksudkan untuk memperkuat khasiatnya dan menetralisir racun. Juga untuk mengurangi rasa tidak enaknya,” tutur Ning, yang mengaku sering melayani “resep” yang ditulis beberapa dokter.
Upaya penyembuhan menggunakan ramuan mahkota dewa, menurut Ning, tidak bisa cepat membuahkan hasil. Pengobatannya perlu dilakukan beberapa kali. Bahkan untuk penyakit berat yang kronis perlu waktu lama. Yang perlu diperhatikan adalah takaran penggunaannya mesti tidak melebihi yang dianjurkan. Kalau takarannya berlebih, pengaruh yang tidak diinginkan bisa muncul.
Mesti diingat, wanita hamil muda dilarang mengonsumsi mahkota dewa. Seperti dikutip Ning, Sumastuti juga telah membuktikan mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga memperlancar proses persalinan. Ini bisa membahayakan kehamilan yang masih muda.
Yang tak kalah penting, pesan Ning, dalam menggunakan ramuan mahkota dewa kita dianjurkan menyugesti atau menyakinkan diri bahwa ramuan ini manjur, berdoa untuk kesembuhan kita, dan tetap mengunjungi dokter untuk mengetahui perkembangan kesehatan kita. (intisari)
Resep untuk Menjinakkan Kanker
Pada orang dewasa, untuk mengobati kanker (payudara atau rahim) yang tidak terlalu parah atau sekadar upaya pencegahan, cukup gunakan satu sendok makan ramuan instan yang diseduh dengan segelas air minum. Minum sehari dua kali, pagi dan sore hari.
Bila penyakitnya serius, perlu ramuan campuran teh racik mahkota dewa dan kunyit putih instan. Caranya, kita rebus satu sendok teh teh racik mahkota dewa dalam tiga gelas air hingga airnya tinggal setengahnya. Lalu, tambahkan satu sendok teh kunyit putih instan. Ramuan ini diminum tiga kali sehari.
Untuk penyakit yang sangat serius dosis ini dibuat dua kali lipat atau sampai satu sendok makan teh racik mahkota dewa. Pengobatan ini memerlukan waktu 3 - 6 bulan. Setelah pasien merasa sembuh ramuan tetap dikonsumsi dengan takaran dikurangi.
Mengendalikan diabetes
Untuk mencegah atau mengobati penyakit diabetes yang tidak terlalu serius diperlukan 3 - 5 potong teh racik mahkota dewa yang direbus dalam tiga gelas air bersama tiga lembar daun salam. Perebusan dilakukan hingga air tinggal setengahnya. Ramuan ini diminum tiga hari sampai seminggu sekali. Sedangkan untuk mengobati diabetes parah kita merebus dengan cara yang sama: sesendok teh racik mahkota dewa dan tiga lembar daun salam. Ramuan diminum tiga kali sehari.*
Lamuri had a heart complaint and hypertension for some time. The woman from Kampung Bahari, North Jakarta, did not see any improvements, even after consulting specialists several times.
“I started drinking Mahkota Dewa Tea and then I regained my health,” she said.
Muhidin Hasan told a different story. The father of three from Plumbon in Kulonprogo regency’s Temon district, almost lost his sense of self-worth before his wife: He suffered from erectile dysfunction.
“After regularly drinking Mahkota Dewa Tea, we could resume intimacy in less than a month,” he claimed.
These are only two of the numerous people enjoying the benefits of Mahkota Dewa Tea. This herbal concoction is composed of 70 percent Mahkota Dewa, also known as the Crown of God (Phaleria Papuana) fruit, 20 percent green tea (Camelia sinensis) and 10 percent tea parasites (Scurrula cetropurpurea).
The tea is also believed to cure various other diseases and ailments, including cancers and tumors, to reduce the uric acid content in the bloodstream and to burn cholesterol, because it contains the key organic compounds needed by the human body.
The tea blend has been produced as an herbal drug since 2003 by PT Salama Nusantara, which employs 150 farmers in Samigaluh, Kulonprogo. It is licensed by the Food and Drug Monitoring Agency (BPOM) and the Ministry of Health, and is certified by the Indonesian Ulema Council.
PT Salama Nusantara director Maryono said that research carried out by Sumastuti of Yogyakarta’s Gadjah Mada University (UGM) had found the Mahkota Dewa fruit to contain antihistamines, flavonoids, saponin, polyohenol and other substances with analgesic, anti-bacterial and blood sugar-lowering effects.
Separately, a green tea study by Johannes Guitenburg of Germany’s Mainz University indicated that the presence of active antioxidants and anti-carcinogen components in the leaves was effective for the prevention of cellular and DNA damage caused by free radicals, which are connected to cancers and heart problems.
“Tea parasites are useful for cancer prevention,” added Maryono.
To maintain a product quality devoid of chemicals, the company’s farmers use organic fertilizers in growing the herbs. UGM personnel, acting as advisers and supervisors, conduct regular field checks to make sure that the plants are completely free of inorganic elements.
The herbal mixture is also made according to a strict process: desiccated Mahkota Dewa fruit is blended with green tea and tea parasites at a ratio of 7:3:1; green tea is freeze-dried to maintain its medicinal properties.
“The entire blending process is overseen by pharmacists for quality control,” Maryono said during a visit to his secondary production site on Jl. Tentara Pelajar in Sebokarang, Wates regency.
The blend is then packaged in ordinary 100-gram plastic pouches, each priced at Rp 20,000, and in the more fashionable 130-gram cardboard boxes, each priced Rp 35,000.
“Though the packaging and content weight are different, they have the same efficacy,” Maryono assured.
Export & employment
Two thousand packs of Mahkota Dewa Tea are now manufactured daily. Their marketing is handled by agents in Jakarta and Surabaya, and in major cities across Bali.
“We expect to have more marketing agents in other cities. But we still impose strict requirements to guarantee product quality,” stressed Maryono.
Since this year, Mahkota Dewa Tea has been sought by overseas consumers, and Malaysia and Suriname have each ordered 50,000 packages.
“We deliver 2,000 packages to Malaysia weekly. As there are no direct flights to Suriname, we make monthly deliveries to that country,” revealed Maryono.
Aside from maintaining strict quality control, job creation is another priority of PT Salama Nusantara in its herbal drug manufacturing business.
In packaging, for instance, the company uses no machines.
“For packaging work, we employ 24 people, while only three are needed with machines. We want to provide jobs,” said Maryono.
In addition, farmers are trained to mince and half-dry the Mahkota Dewa fruit, and supply the fruit in this half-processed form.
“In this way, they can enjoy greater financial benefits,” said Maryono. “The fruit only costs Rp 1,000 per kilogram. We pay them Rp 10,000 for 1 kg of half-processed fruit, which requires 7 kg of raw material to make.”
Maryono said that quite a number of consumers had requested the herbal medicine be produced in syrup form for easy consumption, but the constraint was the liquid tea’s shelf life.
“We are studying whether a liquid blend is as effective as our dried product. Otherwise, we won’t produce syrup because we use no preservatives,” he said.
Maryono started his herbal medicine business because of a personal concern over the presence of various over-the-counter drugs and supplements containing substances hazardous to the health. Many medicinal products and supplements have now been found to contain harmful — and illegal — chemicals, preservatives, and additives.
“Consumers should be careful, as some so-called herbal drugs have a high chemical content,” Maryono cautioned.
In cooperation with UGM and local farmers, Maryono set up the company in 2003, with hopes that Indonesia would regain its potential in the health market through indigenous herbal medicine production.
Indonesia was known previously for an indigenous herb called Jawa Dwipa but, said Maryono, “it was abandoned although it had already been proven to have positive health benefits”.
While wondering why Indonesians relied so much on foreign health products, Maryono noted that several types of drugs and supplements from Malaysia or Singapore, sold at high prices here, were manufactured with raw materials from Indonesia.
The main challenge to Indonesia’s herbal medicine industry is the existence of “herbal” drugs loaded with chemicals.
“So we are producing drugs without preservatives or additives to restore the public trust and to prompt consumers to be more selective in buying health products,” said Maryono.
Sumber : Kompas Cyber Media


