picture

picture

Selasa, 01 September 2009

Masih Adakah Pelangi Untukku?

Aku hanyalah seorang wanita yang rapuh dan berusaha tegar. Tapi apa daya bagaimanapun aku hanyalah wanita yang butuh kasih sayang, dan bukan untuk disakiti. Dari awal memang aku yang salah. Aku menikahi seseorang karena rasa kasihan. Aku benar benar menyesal. Tak ada kebahagiaan yang aku dapatkan, hanya tangis dan rasa sakit.

“Kamu cinta sama aku gak?” tanya Joan, suamiku.

“Gak sama sekali, aku cuma kasihan sama kamu,” seruku. Hatiku kacau, aku lelah.

“Kamu tahu tidak, aku tidak betah satu rumah dengan orang yang tidak punya hati seperti kamu, aku menyesal menikah sama kamu.”

“Aku capek, aku berusaha membuat kamu bahagia tapi apa? Kamu tidak pernah bisa mengerti aku,” tangisku meledak, aku tidak tahu lagi seberapa sering air mataku jatuh.

“Kalau kamu mau maksa mengajak cerai pun aku tidak akan menceraikan kamu,” suara angkuh suamiku.

“Kamu mau lihat aku kembali seperti dulu lagi?” ancam suamiku.

Dasar orang tidak pernah mau kalah. Aku pun diam, dia memang selalu mengunakan ancaman itu saat kita cekcok seperti ini. Dia selalu memanfaatkan rasa tidak tegaku.

Aku pun berlalu dengan hati yang remuk. Mungkin tak berbentuk lagi. Aku lelah dan aku pun terlelap dengan air mata menetes di pipiku.

* * * *

“Kamu gak boleh kemana mana!” seru Joan tak suka.

“Kenapa aku selalu tidak diberi waktu untuk melakukan aktivitas di kampus?” tanyaku lembut. Aku tahu jika aku ngotot juga pasti ujung-ujungnya ribut. Tapi bicara dengan satu orang ini, sehalus apapun pasti jadinya bertengkar.

“I just need a reason. Orang yang melarang pasti ada alasannya kan? Apa ada alasan?”

“TIDAK SUKA.”

“Aku capek bicara sama orang seperti kamu.”

Aku berlalu. Dia hanya diam menatapku. Aku terduduk dan mendekap lututku. Ya Rob, apakah hari-hariku akan penuh dengan air mata? Hambamu ini tak kuasa menahan kesabaran. Hati ini terlalu sakit sampai mati rasa. Air mata ku membasahi pipiku. Sepuang dari kampus aku mampir kerumah mamaku. Aku langsung memeluk erat tubuh mamaku.

“Ma, Dina gak sanggup lagi, Dina capek sama kelakuan Joan,” kataku terbata. Mama mengelus rambutku .

“Sayang, kamu tahu kan seorang istri harus patuh sama suami, tapi kalau kamu sudah menjalankan kewajibanmu dan suamimu tidak bisa menghargai kamu, kamu sebagai istri kalau suami ada salah juga harus diingatkan. Kamu berhak marah ke suamimu, tapi jangan pernah mengucapkan kata kasar untuk melawah kata.kata kasar dia.”

“Ma, tapi apakah dia tidak pernah memikirkan perasaan Dina? Dulu waktu Dina diterima sebagai dosen dia gak setuju, tapi Dina menagih janji dia. Permintaan Dina sebagai syarat saat pertama kita memutuskan untuk menikah asal dina tetap diijinkan mengajar, tapi apa?? Dia tidak konsisten dengan ucapannya. Dina capek harus ngertiin dia, semua yang dia inginkan sudah Dina penuhin. Dari Dina yang gak pernah boleh keluar saat ada acara kampus, menolak tawaran beasiswa S2 Dina, apa semua itu gak cukup muasin dia? Kalau memang benar Dina adalah tulang rusuk dia, gak mungkin dia tega menyakiti Dina.”

Aku tidak dapat menahan emosiku lagi, tangisku meledak. Mama memeluk aku erat tak ada sepatah kata pun yang bisa Mama katakan. Mama hanya memeluk erat tubuhku. Aku selalu nyaman di peluknya.

“Kadang Allah mengirim seseorang yang salah sebelum memberikan belahan jiwa kamu. Dia menguji seberapa tegarnya kamu menjalani cobaan dariNYA sehingga kamu bisa dianggap pantas untuk mendapatkan kebahagiaan,” suara lembut Mama.

* * * *

Aku masih termenung menatap air hujan yang jatuh rintik-rintik. Aku begitu suka dengan hujan. Aku tak tahu apa karena saat hujan aku bisa menangis sepuasnya serentak dengan air yang dikirim oleh Allah ke bumi.

Hujan mulai reda, sang mentari mulai mengusir awan mendung. Dan aku terkesima saat sebuah lengkungan berwarna warni melengkung di langit. Setelah hujan reda akan datang sang mentari kemudian mentari akan membiaskan sisa hujan dan terpantul menjadi pelangi seketika. Aku terpekur, aku bimbang, dan aku bertanya, “ Masih adakah pelangi untukku?”

Aku berharap masih ada kebahagiaan untukku. Tapi mungkin bukan dengan orang itu.

* * * *

Hujan masih setia mengguyur kotaku. Aku terduduk di pojok kamarku, menatap setiap tetesnya. Suamiku masuk, aku menghapus air mata yang mengenang di sudut mataku. Wajahnya sudah sangat kusut, entah karena apa.

“Buatin aku mie,” serunya.

Aku beranjak dari tempat dudukku, menuju ke dapur. Mie sudah terhidang di depan dia. Dahinya berkerut.

“Kenapa masak mie sampai matang begini?”

“Hah, yang namanya mie memang begitu kan yah?” jawabku.

“Tapi ini terlalu matang, aku tidak mau makan,” seru suamiku.

Aku pun membuatkannya lagi tapi apa kata dia?

“Masak mie aja tidak becus,” seraya meninggalkan aku. Aku terpaku menahan tangis yang sudah siap jatuh. Dan aku semakin terpuruk dalam kesedihanku.

* * * *

Riak air danau bergerak gerak senada dengan angin yang berhembus lembut, mengusik daun-daun Akasia, menyapu lembut wajahku dan memainkan rambutku. Aku duduk sendiri di tepian danau menanti datangnya pelangi. Karena hujan baru saja reda dari tengah danau muncul lengkungan berwarna-warni yang sedari tadi aku tunggu. Aku begitu menikmatinya seraya ku berucap, “Tuhan, beri satu pelangi untukku,” karena aku percaya selalu ada pelangi setelah hujan badai.

Yang Hilang dan Kembali

Lestari merangkul pria di hadapannya.

“Jangan pergi lagi mas!” ujarnya pelan. Matanya memohon pada pria yang berdiri kokoh di dekapannya.

“Aku tak bisa.” Pria itu mencoba melepaskan eratnya dekapan wanita berketurunan Jawa-Sunda itu.

Suara-suara alam membahama. Kesunyian yang terbentuk meneteskan air mata kerinduan. Pria itu baru datang pagi ini. Lima tahun sudah pria yang pernah memberikan ketulusan cinta padanya tujuh tahun silam meninggalkannya.

“Kau tidak kangen dengan anak kita, Wulan?” ucapan Lestari makin bergetar. Matanya yang bening mulai memerah. Ia tak mampu mengatur napasnya lagi. Dadanya naik-turun tak menentu.

Seorang bocah perempuan berdiri di belakang kaki Lestari. Sesekali bocah itu melongok ke arah pria yang membuat ibunya menangis itu. Ada kebencian yang menelisik di hati bocah itu. Namun ada pula kerinduan yang teramat, terpendam di sisa-sisa isak masa lalunya.

“Aku tak mau lagi kau hanya menemuiku lewat sebuah surat berisi sejumlah nafkah saja, begitu menyakitkan.”

“Tiap kali tetangga kita bertanya, di mana kau Mas? Sudahkan kau lupa tentang aku? Awalnya mereka maklum karena kau bekerja di kota sana, di Jakarta. Satu tahun, dua tahun, lalu lima tahun kau baru pulang tanpa kabar sebelumnya. Ke mana saja kau, Mas?” lanjut Lestari. Kristal air mengalir. Pipinya basah.

Pria itu tak bergeming dari tempatnya. Gunung ego yang kokoh menanamkan akarnya pada kerak bumi. Pria itu membalikkan badannya.

“Aku tahu itu, Tari. Aku pun rindu pada anak kita, tapi aku tak bisa.”

“Kenapa tak bisa, Mas? Apa yang sudah kau lakukan di kota sana? Apa kau bertemu dengan wanita lain yang lebih menarik di sana sehingga kau tak mau kembali lagi ke sini selama lima tahun?” isak itu mulai terdengar jelas. Pria itu mulai gelisah. Akar-akar egonya mulai tercabut satu demi satu.

Pria itu menggeleng. Bayangan kebahagiaan bersama isteri dan anaknya ditampik. Bayangan kebahagiaan yang tak dibutuhkannya saat ini.

“Sekali lagi maafkan aku, Tari, aku tak bisa.” Pria itu melenggang pelan. Sebelum itu, ia melirik ke arah bocah kecil yang bersembuyi di belakang Lestari. Ia menghembus napas panjang, lalu tersenyum ke arah bocah itu.

Kau sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik, gumam pria itu dalam hati.

Pintu tertutup. Angin siang yang menyengat terasa dingin. Lestari hanya diam menatap kesendiriannya lagi, semuanya terjadi begitu cepat. Belum setengah hari pria itu kembali. Kini ia sudah pergi.

“Siapa orang itu, Bu?” Wulan yang dari tadi bersembunyi mulai berani berkata, dengan nada terbata. Matanya mengisyaratkan rasa ingin tahu yang sangat besar. Wulan merasakan adanya kedekatan hati ketika pria itu tersenyum padanya tadi. Kedekatan yang sudah lama ia nantikan. Entah apakah itu, Wulan sendiri tak mengerti. Ia hanya merasakan sayang begitu dalam yang tak tersampaikan.

“Dia bukan siapa-siapa, Nak.” Lestari mengusap pipinya yang terasa basah.

“Kenapa Ibu menangis?” isak Lestari masih terdengar. Meskipun ia sudah berusaha menahan matanya agar tidak berair lagi.

Lestari membisu. Lidahnya kelu. Mas Seno kenapa kau pergi lagi? jeritnya keras, memantul dalam relung hatinya yang sudah lama terluka.

♣♣♣

“Lestari, maukah kau menikah denganku?”

Lestari terkejut. Mukanya yang putih bersih memerah seperti warna langit biru yang terhias lukisan pelangi, sangat indah.

“Kenapa kau diam, Tari? Apa kau tak suka, aku mengatakan hal ini padamu?”

“Bukannya begitu, aku sangat suka akhirnya kau mengatakan hal itu padaku.”

“Lalu?” Seno memandang lekat wanita di hadapannya. Ia menanti bibir wanita itu bergetar menjawab tanda tanya besar yang mematung dalam pikirannya kini.

“Bagaimana dengan orang tua kita? Apa mereka setuju? Bukankah mereka pernah mengatakan bahwa kau harus bekerja dulu sebelum kita menikah?”

“Oh, jadi itu masalahmu.” Seno tersenyum. “Jangan khawatir aku bisa mengusahakannya kelak ketika kita sudah berkeluarga.”

“Mengusahakannya?” Lestari tak mengerti, kata-kata itu seperti sebuah apologi yang sering ia dengar dari kebanyakan kisah sejenis yang dialaminya. Sebuah ketidakpastian yang mampu menjerumuskan dirinya dan diri pria itu.

“Ya, kebetulan beberapa hari yang lalu aku dihubungi pamanku yang ada di kota. Katanya ada lowongan kerja yang cocok untukku,” ujar Seno berapi-api.

“Lowongan kerja apa? Bukankah SMK saja kau tak tamat?” hati Lestari masih menggetarkan nada keraguan. Ada semacam rasa tidak percaya yang kuat dalam dadanya. Namun ia juga merasakan getar kesungguhan dari ucapan Seno. Dua perasaan itu bertarung kuat dalam hatinya.

“Aku memang tak tahu pekerjaan apa yang akan aku dapatkan di kota kelak. Tapi aku yakin bahwa pekerjaan itu mampu memberikan nafkah yang cukup bagi kita.” Seno menggenggam erat tangan Lestari. “Yakinlah padaku, Tari,” bisik Seno.

Lestari mengangguk pelan.

“Aku percaya padamu, Mas.”

Mereka berdua tersenyum, sebuah kebahagiaan yang mereka nantikan akhirnya tiba. Udara senja memberikan kehangatan dalam hati mereka. Mentari turun perlahan, turut memberikan ucapan bahagia untuk sepasang sejoli yang tersenyum padanya. Tersenyum pada suasana yang akan berganti, menjadi suasana syahdu penuh rasa syukur.

♣♣♣

“Saya terima nikahnya Lestari Dwi Astuti binti Muhammad Asep Syaefudin dengan mas kawin seperangkat alat shalat tunai,” Seno mengucapkan kata-kata itu dengan lantang.

Suara syukur, penuh puji-pujian bergemuruh.

Lestari dan Seno saling berpandangan. Mata mereka beradu. Sesaat muka mereka berdua memerah diiringi dengan senyum malu keduanya. Orang-orang yang berada disekitar mereka turut tersenyum, menyambut kebahagiaan mereka.

“Aku akan selalu menjagamu, Lestari,” bisik Seno di sela-sela kebahagiaan mereka. Lestari tersipu.

“Aku juga akan setia padamu, Mas” ujar Lestari pelan.

Gemuruh rasa itu membuncah kembali pada dada Lestari. Tangisannya pecah. Kamar berukuran 4×6 nya terasa lebih sempit baginya. Sesempit hatinya yang kehilangan hal yang disayanginya.

Ia merindukan rasa yang dulu. Rasa ketika pertama kali kata cinta pria itu ucapkan padanya. Rahmat Suseno.

Dimana kau, Suamiku? Tidakkah kau merindukanku? Benarkah rasa sayang dan cintamu sudah habis untukku? Benarkah di kota sana kau bertemu dengan wanita yang jauh lebih cantik dariku?

Air mata Lestari terus menganak. Hatinya pun terbelah menjadi beberapa bagian. Satu rasa kesedihan, satu rasa keletihan, satu lagi rasa kerinduan. Entah rasa mana yang paling ia rasakan kali ini. Semua rasa itu bercampur menjadi satu.

“Ibu menangis lagi?” Wulan melongok dari balik pintu.

Lestari cepat mengusap matanya. Kesedihan ini tak pantas menjadi bagian anak manis yang masih termangu di balik pintu. Ia masih terlalu lugu untuk mengenal rasa sakit dan pedih.

“Tidak, Nak. Ibu tidak menangis, Ibu hanya mengkhawatirkan kamu, Wulan,” suara itu terdengar parau. Ia masih tidak bisa menyembunyikan kesediahannya. Ia mencoba untuk menahan rasa sakit yang masih lekat ia rasakan.

“Ibu mengkhawatirkan Wulan?” Mata bocah itu berseri juga penuh tanya. “Apa yang ibu khawatirkan?” lanjut bocah itu. Badan kecilnya menggelayut manja di pangkuan Lestari.

“Ibu mengkhawatirkan kebahagiaan Wulan,” ucap Lestari. Tangannya menyapu lembut rambut bocah kecil berumur enam tahun itu.

“Kebahagiaan? Apa itu kebahagiaan, Ibu?” Bocah itu menatap Lestari dengan mata berseri. Dekapannya semakin kuat, seolah tak mau kehilangan sesuatu yang diinginkannya.

“Kebahagiaan itu sesuatu yang indah. Jika Wulan bahagia berarti Wulan sudah mendapatkan apa yang Wulan inginkan. Wulan punya mimpi dan keinginan kan?” tanya Lestari pelan. Bocah itu mengangguk mantap.

“Mimpi Wulan adalah bisa bertemu dengan Ayah.” Mata bocah itu berbinar terang. Kesungguhan dan kebulatan tekad terpancar di sana. Lestari tak tahan melihatnya.

“Kapan Ayah pulang, Bu?”

Wulan merenggangkan dekapannya. Ia mencari jawaban pasti dari mulut ibunya.

“Sabar ya, Nak. Tahun baru ini semoga Ayah bisa pulang.”

“Benarkah itu, Bu?” Wulan tersenyum lebar. “Wulan ingin kalau Ayah pulang membawa oleh-oleh yang banyak buat Wulan. Ada boneka, rumah-rumahan, sampe makanan yang banyak, boleh kan, Bu?”

Lestari tersenyum kecut, tak tega rasanya membuat bayangan indah bocah itu mengabur. Ia hanya mengangguk lalu mengecup kening halus Wulan.

Wulan terus bercerita. Semakin ia mendengar celoteh impian bocah itu, dada Lestari semakin sesak. Benarkah perbuatannya kali ini, membohongi harapan dan impian anaknya? Lestari hanya bisa meratap dalam hati.

Di hadapan anaknya ia selalu mencoba tersenyum. Ia tak ingin anaknya tumbuh dalam suasana kesedihan. Kebahagiaan Wulan adalah hal yang paling berarti baginya.

Maaf ya nak, jeritan pilu di hatinya terdengar parau.

♣♣♣

“Bu Tari, Bu Tari, Wulan, Bu!” seorang wanita paruh baya datang dengan tergesa. Peluh yang deras menentes menunjukkan kegelisahan yang sangat.

“Kenapa dengan Wulan, Bu Raida? Apa dia nakal lagi di sekolah?”

Bu Raida menggelengkan kepala. Ia salah seorang guru taman kanak-kanak yang mengajar Wulan.

“Lalu?” Lestari mendadak pucat. Ada rasa khawatir yang mendadak muncul. Adakah hal buruk yang terjadi terhadap Wulan?

“Wulan mendadak pingsan di sekolah. Sekarang ia sudah dibawa ke puskesmas di desa sebelah.”

Lestari limbung. Kepalanya seakan mendapat hujan ribuan jarum dari langit. Gelegar petir yang menyambar menambah sakit dalam sengatan pikirannya. Awan hitam menggelayut. Pandangan matanya mulai mengabur oleh rintik-rintik air yang deras menetes.

“Ayo kita ke sana, Bu.” Lestari menarik tangan Bu Raida.

Bu Raida mengangguk. Ia juga pernah merasakan rasa kehilangan. Putranya delapan bulan yang lalu sakit keras yang membuat ia harus meneteskan air mata kehilangan.

“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” kata Lestari sesampainya di sebuah puskesmas kecil di desa sebelah.

Kondisi bangunan itu terlihat kurang terawat. Pintu depan puskesmas itu nampak usang. Rayap-rayap sudah memakan bagian bawah kotak kayu itu. Taman di depan puskesmas tak terawat, tanpa sebuah tanaman indah yang menghias. Begitu juga di dalam ruangan. Tak ada barang yang bisa dikatakan berharga lagi.

Lestari mengelus dada. Beginikah kondisi pelayanan kesehatan di daerahku? Pantas orang-orang jarang pergi ke puskesmas. Mereka lebih memilih untuk pergi ke Pak Mantri di desanya.

Seorang dokter muda memainkan kacamatanya. Nampak bahwa ia masih hijau akan pengalaman. Keringat dingin menetes dari keningnya.

“Anak Ibu, kena Hepatitis B.”

“Hepatitis B!” Mata Lestari membelalak. “Apa ia bisa disembuhkan, Dok?”

“Bisa, tapi tidak di tempat ini. Peralatan di puskesmas kurang memadai. Ibu harus membawanya ke rumah sakit di kota,” papar dokter itu.

Di kota? Kenapa desa seolah merupakan tempat terpencil yang terabaikan? Kadang Lestari merasa kesal dengan kondisi ini. Desa seakan menjadi daerah marginal yang kehilangan perhatian. Ahh, di manakah janji-janji parai politisi itu saat kampanye dulu?

“Terima kasih, Dok,” ucap Lestari singkat sembari memberikan beberapa lembar uang puluh ribuan kepada dokter itu.

“Terima kasih,” kata dokter itu tanpa ada tindak lanjut setelahnya. Ia tersenyum lebar.

“Ayah, Ayah…,” dalam pelukan Lestari, Wulan mengigau pelan. Suara yang bersumber dari keletihan hati gadis kecil itu.

Aku harus mencarinya! Tekad itu tepancang bulat dalam hati Lestari.

♣♣♣

Suasana kota siang ini begitu menyengat. Udara-udara kotor kota semakin menambah keresahan hati seorang wanita muda yang berjalan tertatih. Sudah hampir dua hari ini Lestari menyusuri kota. Daerah kumuh hingga pertokoan yang menjulang tinggi sudah ia kunjungi. Hasilnya nihil.

Di mana kau, Rahmat Suseno? Hati Lestari gerimis.

Senja menjelang. Lestari merasa sangat lelah. Bukan hanya kelelahan fisik yang ia rasakan, hatinya juga lelah mencari ketidakpastian dan kerinduan yang diimpikannya.

Lestari menyandarkan diri pada bangku halte bus di dekat traffic light.

Malam merayap. Sudah genap dua hari ia pergi meninggalkan Wulan. Entah kebohongan apa yang akan ia sampaikan lagi pada gadis kecilnya itu sesampainya di desa.

Tapi…

Sebentar!

Lestari melihat sosok yang dikenalnya melenggok di perempatan jalan. Tapi Lestari merasa ada yang berbeda dengan sosok itu.

Benarkah itu dia? Lestari menerka. Ia berjalan mendekati sosok yang sedang bergerombol bersama teman-teman sejenisnya itu.

“Mas Seno? Benarkah itu kau, Mas?”

Seorang pria dengan berbagai riasan di wajah membalikkan badan. Mukanya pias. Tatapan Lestari menelanjangi dirinya. Seno menunduk malu.

“Ada apa denganmu, Mas? Jadi selama ini…” Suara Lestari terdengar serak. Ia berlari sekencang-kencangnya. Ia tak bisa menerima kenyataan yang baru saja dilihatnya.

Seno mengejar wanita itu. “Tari tunggu!”

“Sani, sani, mau kemana kamu.” Lestari mendengar nama seseorang disebut. Jadi namamu di kota Sani, Mas?! jerit Lestari dalam hati.

Seno hampir saja berhasil mengejar Lestari. Bis malam yang melintas membuat perjuangannya berakhir.

“Tari, tunggu!” Lestari sempat mendengar sayup teriakan parau itu. Namun, telinga Lestari telah tertutup oleh rasa sakit yang mendera batinnya.

Bis malam yang ditumpanginya berhenti di sebuah lampu merah. Perempatan jalan itu nampak lenggang. Namun sebuah lukisan pemandangan membuat hati Lestari menjerit.

Beberapa pria berpakaian mini dengan wajah penuh riasan melenggok pelan, menggoda setiap pengendara yang melintas.

Entah di perempatan mana kau melenggokkan badanmu, Mas, jeritan Lestari membuat siapa saja yang mendengarnya terenyuh.

Bayangan sejuta tanya anaknya sudah ia rasakan. Tanya dengan sebuah tawa mengembang yang akan menyambutnya. “Mana Ayah, Bu?” Pertanyaan itu membuat hatinya semakin sakit.

Lampu hijau menyala. Bis malam kembali melaju, meninggalkan lenggokan manja yang menggoda.

Lestari membiarkan pipinya basah. membiarkan harapan itu hilang dan kembali.

♣♣♣

Lagi!! Malaysia Klaim Pulau Jemur sebagai komoditi wisatanya

setelah pulau sipadan dan ligitan, kemudian diteruskan dengan sejumlah kontroversi budaya yang menyangkut malaysia dan Indonesia; seperti Reog, Bandeng Presto, Sejumlah lagu daerah, dan yang terakhir adalah tari pendet, Oknum asing kembali membuat ulah.

Sejumlah laman internet mencantumkan Pulau Jemur di Provinsi Riau sebagai bagian dari daerah tujuan pariwisata Negeri Selangor, Malaysia.

Hal tersebut menimbulkan reaksi dari Pemerintah Provinsi Riau, Senin (31/8), yang langsung menyatakan bahwa Pulau Jemur adalah pulau terluar di Kabupaten Rokan Hilir yang berbatasan dengan Malaysia di Selat Malaka.

Informasi mengenai penawaran Pulau Jemur sebagai daerah tujuan wisata tersebut dapat diakses di sejumlah situs pariwisata Travel Journal dan laman Osvaja.net yang menyebutkan bahwa Pulau Jemur sebagai destinasi wisata Negara Bagian Selangor, Malaysia.

Dalam situs Travel Journal dicantumkan lokasi dan peta Pulau Jemur yang dikatakan masuk dalam wilayah Selangor, Malaysia. Namun, tidak bisa diketahui informasi mengenai penanggung jawab laman pariwisata tersebut.

Menanggapi hal itu, Kepala Biro Humas Pemprov Riau Zulkarnain Kadir di Pekanbaru meluruskan informasi yang menyesatkan di laman internet tersebut bahwa Pulau Jemur merupakan bagian Indonesia.

Ia mengatakan, pulau itu bagian dari Kabupaten Rokan Hilir yang sudah dilengkapi dengan berbagai infrastruktur oleh pemerintah setempat.

“Pemerintah Riau dan Rokan Hilir juga menjadikan Pulau Jemur sebagai salah satu ikon wisata di provinsi ini. Jadi enggak benar klaim milik Malaysia tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan, Pulau Jemur berada di gugusan Kepulauan Arwah di perairan Kabupaten Rokan Hilir. Pulau tersebut merupakan pulau terluas yang mencapai 2,5 kilometer persegi.

Menurut dia, kawasan tersebut memang sudah lama dijadikan salah satu obyek wisata andalan di Riau. Karena itu, klaim Pulau Jemur sebagai salah satu daerah tujuan wisata negeri jiran merupakan kerugian bagi Indonesia, khususnya Riau.

sumber : kompas.com